Sabtu, 13 Juli 2019

Menjemput Mimpi ke Mekkah Melalui Sampah


Ibu Atun, Pegiat Sampah dari Kampung Sempu, Cikarang.

Perkenalkan nama saya Meri. Pada tahun 2016, saya bekerja di sebuah Lembaga sosial yang bergerak di bidang kemanusiaan. Suatu waktu saya ditugaskan untuk mengunjungi Pameran SDGs yang berada di Jakarta. Saya sangat senang mendapat kesempatan yang sangat langka tersebut. Berangkat dari Bandung bersama rekan kerja saat pagi buta dan ternyata saat sampai di lokasi sudah banyak berkumpul orang-orang hebat yang berkecimpung di dunia sosial.

Saya pun tidak menyia-nyiakan untuk berkeliling booth. Saya pun tertarik dengan satu booth yang selalu mencuri perhatian setiap pengunjung yang datang. Di booth tersebut banyak orang-orang yang sedang belajar dengannya. Ibu yang berkerudung lebar di booth tersebut dengan sabar mengajari pengunjung untuk membuat kerajinan tangan.

Setelah saya cari tahu, beliau adalah Ibu Atun yang merupakan orang yang mendapatkan bantuan dari Lembaga sosial di bidang sampah. Beliau memperlihatkan karya-karya dari sampah pada pameran SDGs tersebut. Saya pun tidak pikir panjang langsung mendekati dan melewati keramaian orang disana.




Saya langsung kaget ternyata Ibu Atun sedang memakai rompi yang unik. Rompi tersebut seluruhnya terbuat dari sampah bekas bungkus kopi. Saya pun coba memperhatikan secara seksama satu demi satu bungkus kopi yang dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi rompi. Tidak hanya rompi, ada kerajinan tangan lainnya seperti tempat tissue, dompet, tas, pot, dan banyak lagi.

Saya pun tidak lupa untuk meminta nomor handphonenya dan juga meminta foto bersama. Alhamdulillah beliau sangat ramah dan baik kepada setiap orang. Sehingga kesan pertama yang saya dapatkan adalah LUAR BIASA. Beliau itu berdomisili di Cikarang dan mendapatkan amanah untuk mengelola Bank Sampah Sempu. Sempu adalah nama kampung tempat Ibu Atun tinggal bersama keluarga sekaligus mengurus Bank Sampah.

Kembali Bertemu Bu Atun


Kegiatan Jemput Sampah (dok. Pribadi)

Setahun berikutnya, saya dipindahtugaskan ke Kota Bekasi. Saya cukup familiar dengan Bekasi karena yang saya tahu itu Bekasi mempunyai tempat yang bernama Pulo Gebang. Identik dengan julukan “gunungan sampah”. Saya pun satu kantor dengan Pak Hafidz. MasyaAllah ternyata beliau itu kordinator Bank Sampah Sempu, tempat dimana Bu Atun yang mengurusi Bank Sampah.

Pak Hafidz banyak bercerita tentang kegigihan Bu Atun yang merintis Bank Sampah Sempu yang semula dari nol sampai dengan mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Bekasi. Beliau bisa memberdayakan anak-anak muda, ibu-ibu, dan masyarakat sekitar Kampung Sempu. Mulai dari mengajarinya berwirausaha dari sampah, membuat kerajinan tangan, dan sampai mengajari bermain facebook.
Ibu-ibu pegiat sampah sedang memilah tutup botol (dok. Pribadi)

Saya sangat berkeinginan untuk bertemu dengan Sosok Pegiat Sampah seperti Bu Atun. Alhamdulillah suami saya sedang ada projek tentang sampah. Saya pun pergi dari Stasiun Bekasi menuju Stasiun Cikarang. Padatnya lalu lintas tidak terasa ketika berkelana menggunakan moda transportasi yang satu ini. Meskipun berdempet-dempetan dengan penumpang lain tetapi tidak masalah daripada nanti terjebak di padatnya lalu lintas Cikarang.

Saya pun memesan taksi online dan segera tancap gas menuju Kampung Sempu. Saya pun takjub melihat Kampung Sempu. Kenapa? Karena Kampung Sempu ini sangat unik. Kampung ini berada tepat di tengah-tengah Kawasan pabrik di Cikarang.

Tanaman gantung dari botol bekas (dok. Pribadi)

Setibanya di Kampung Sempu, saya pun berjalan kaki menuju rumah Ibu Atun. Setelah melewati gang-gang yang berkelok-kelok, saya pun kembali mendapat kejutan di rumah Ibu Atun. Terlihat banyak sekali modifikasi sampah yang sudah diaplikasikan oleh Bu Atun.


Tanaman Pakcoy yang berasal dari tanaman gantung (dok.  Pribadi)

Bekas botol minuman yang diisi tanaman kemudian tertempel di dinding-dinding rumah. Sehingga membuat asri di Kampung Sempu. Mungkin tahu kan Cikarang itu cuacanya panas dan tidak menghangatkan. Hehe

Kegiatan Bank Sampah Sempu


Proses mengambil sampah dari warga (dok. Pribadi)

Ada juga kebun gantung, sayuran pakcoy, tanaman hidroponik, tirai dari tutup botol. Saya pun semakin semangat untuk segera belajar bersama Bu Atun. Alhamdulillah saya dan suami bisa mendapat ilmu baru dari beliau. Perempuan yang ramah itu dengan sabar mengajari kami yang belum lihai membuat kerajinan tangan. Meskipun susah tapi berhasil juga membuat pot dari toples bekas.




Suaminya bekerja sebagai satpam di sebuah perusahaan di Kawasan Industri Cikarang. Ibu Atun membantu ekonomi keluarga dengan bekerja serabutan. Biasanya Ibu Atun bekerja sama dengan Komunitas Eco Village untuk mengisi pelatihan membuat keterampilan atau kerajinan dari sampah. Kadang sukarela tapi terkadang juga dibayar. Alhamdulillah beliau bisa mensyukuri rezeki yang telah diberikan karena niat dari awal memang ikhlas untuk berbagi.

Anak-anak sedang membuat tanaman gantung dari tutup botol (dok. Pribadi)

Bukan hanya kerajinan yang kami dapatkan, tetapi nilai perjuangan, kegigihan, dan kepedulian terhadap sampah menjadi ilmu yang sangat berharga. Tantangan menjadi pegiat sampah tidaklah mudah. Menjadi buah bibir di kalangan masyarakat sudah menjadi sarapan sehari-harinya ketika saat awal mula merintis Bank Sampah Sempu.

Membuat kerajinan bersama ibu-ibu Kampung Sempu (dok. Pribadi)

“Ngapain ngurusin sampah. Urus aja keluarga sendiri!”

Begitulah tantangan yang biasa dihadapinya. Tetapi Ibu Atun tutup telinga dan beliau tetap bertahan karena kecintaan terhadap sampah tidak akan pudar. Beliau pernah mengatakan kepada saya,

“Kalau kita tidak peduli dengan sampah maka anak cucu kita di masa depan yang akan merasakan akibatnya”

Keseharian Bu Atun mengumpulkan sampah (dok. Pribadi)

Waktu berjalan dengan indah, perjuangan Ibu Atun membuahkan hasil. Dukungan dari Lembaga sosial membuatnya menjadi lebih semangat untuk mengelola Bank Sampah Sempu. Beliau mulai melakukan inovasi-inovasi dan akhirnya Bank Sampah berjalan dengan baik. Itulah yang membuat Pemerintah Kota Bekasi memberikan penghargaan kepada Ibu Atun atas dedikasinya terhadap sampah di Kampung Sempu.

Bersama ibu-ibu di pengajian (dok. Pribadi)

Megnisi seminar Mewujudkan Masyarakat Sehat (dok. Pribadi)

Selain mengelola Bank Sampah, Ibu Atun juga mengisi pengajian. Beliau dipercaya untuk memegang beberapa pengajian karena sifat beliau yang mudah bergaul dan bisa dekat dengan orang lain.

Mengajari ibu-ibu menulis (dok. Pribadi)

Di sela-sela kesibukannya juga Ibu Atun mengajari ibu-ibu yang buta huruf. Karena di daerah Kampung Sempu masih ada beberapa masyarakat yang belum bisa calistung (baca tulis menghitung). Ada kejadian menarik sebelum mengajar ibu-ibu tersebut.

Suatu hari, ibu-ibu yang buta huruf tersebut mendapatkan undangan pernikahan. Banyak ibu-ibu yang mendekati Bu Atun untuk minta tolong. Ibu Atun sangat senang memberikan bantuan. Tidak disangka sebelum dimintai pertolongan, mereka menyodorkan amplop. Tetapi amplop tersebut bukan untuk diberikan ke Bu Atun tetapi mereka meminta tolong Bu Atun untuk menuliskan nama mereka sendiri.

Ibu Atun pun mulai mengajari mereka membaca dan menulis. Meskipun sulit dan secara ikhlas beliau berbagi ilmu dengan mereka. Alhamdulillah setelah diajari Bu Atun, mereka tidak meminta tolong lagi ke Bu Atun untuk menuliskan lagi namanya karena sekarang sudah bisa menulis sendiri.

Kegiatan Program Sosialitas Sempu Berbagi





Ibu Atun juga aktif di media sosial, khususnya facebook. Beliau menginisiasi Program Jumat Berbagi Nasi Bungkus. Kegiatan ini mendapatkan respon positif dari warganet. Yang mulanya anggotanya puluhan, sekarang sudah mencapai ratusan. Dana pun semakin banyak terkumpul bahkan kelebihan. Karena dananya kelebihan dan harus digunakan untuk sosial maka beliau alokasikan ke program baru, yaitu program santunan untuk kaum dhuafa.

Masih ingat ketika beliau memberikan bantuan kepada penderita kanker. Alhamdulillah beliau sangat senang bisa berbagi kepada sesama. Kaum dhuafa pun juga tidak luput dari perhatiannya.

Bu Atun juga sebagai pelopor sukarelawan memandikan jenazah. Ada satu kebiasaan yang di daerah Cikarang jika ada saudaranya yang meninggal maka untuk memandikannya harus membayar tukang. Nah, beliau sangat prihatin dengan kondisi seperti ini. Bu Atun berpikir kalau orang yang sudah tertimpa musibah seharusnya jangan ditambah bebannya. 

Dulu tarifnya sekitar 600 ribu bahkan ada yang membayar pakai cincin emas. Kemudian Ibu Atun belajar kepada seseorang tentang ilmu memandikan jenazah. Alhamdulillah setelah bisa maka beliau praktikkan ketika ada tetangganya yang meninggal. Beliau sering dipanggil oleh beberapa masyarakat sekitar. Setelah selesai memandikan, Bu Atun sempat mau dibayar dengan diberikannya sebuah cincin emas berharga. Dengan halus, beliau menolak karena beliau sukarela melakukannya.

Sekarang Bu Atun sedang merintis program WERS (Wisata Edukasi Rumah Sampah). WERS merupakan tempat belajar para mahasiswa atau pengunjung dari berbagai instansi untuk mempelajari Bank Sampah Kampung Sempu serta kerajinan tangan dari sampah. Penghasilan dari WERS tersebut digunakan untuk pemberdayaan sampah, bantuan untuk kaum dhuafa, dan kegiatan sosial lainnya.

Bermimpi ke Mekkah



Pada tahun 2013 silam, beliau pernah bercerita kepada teman-teman pegiat sampah lainnya. Beliau bercita-cita ingin pergi ke Mekkah. Bisa umroh ke tanah suci adalah salah satu mimpinya yang belum terwujud hingga saat ini. Namun beliau berbicara kepada teman-temannya saat itu bahw dengan sampah bisa membawa berkah dan yakin dengan sampah bisa menjadi jalan ke Mekkah. Meskipun sedikit uang yang didapat dari sampah tetapi beliau yakin dengan kekuasan Allah.


Penerimaan Penghargaan Sebagai Perempuan Inspiratif oleh Pemerintahan Kabupaten Bekasi (dok. Pribadi)

Saya cukup merinding dengan cerita beliau. Sosok yang sempat menjadi nominasi women empowering di Lembaga sosial tersebut memberikan inspirasi kepada saya secara pribadi. Saya membawakan cerita ini di Blog Contest yang diadakan oleh Allianz Indonesia yang bertajuk #BerlipatnyaBerkah. Besar harapan, cerita ini bisa menjadi jalan untuk mewujudkan mimpi Ibu Atun untuk pergi ke tanah suci.  


Tentang Allianz

Allianz merupakan salah satu penyedia asuransi dan manajemen aset terbesar di dunia. Bersama nasabah dan mitra penjualan, Allianz merupakan salah satu komunitas keuangan terkuat di dunia dengan operasi yang tersebar di 70 negara dan didukung oleh 140.000 karyawan yang melayani lebih dari 86 juta nasabah perorangan dan korporasi.

Allianz hadir di Asia Pasifik sejak tahun 1910 di pesisir China dengan menyediakan asuransi kebakaran dan pengangkutan. Saat ini, Allianz beroperasi di 14 negara di Asia Pasifik untuk melayani asuransi umum, jiwa, kesehatan, dan manajemen aset. Dengan lebih dari 32.000 staf, Allianz melayani kebutuhan lebih dari 18 juta nasabah di wilayah ini melalui beberapa saluran distribusi.

Allianz memulai bisnisnya di Indonesia dengan membuka kantor perwakilan di tahun 1981. Pada tahun 1989, Allianz mendirikan PT Asuransi Allianz Utama Indonesia, perusahaan asuransi umum. Kemudian, Allianz memasuki bisnis asuransi jiwa, kesehatan dan dana pensiun dengan mendirikan PT Asuransi Allianz Life Indonesia di tahun 1996.



Di tahun 2006, Allianz Utama dan Allianz Life memulai bisnis asuransi syariah. Allianz Health & Corporate Solutions dibentuk tahun 2014 untuk melayani kebutuhan asuransi kesehatan individu dan kumpulan. Allianz Indonesia didukung oleh lebih dari 1.400 karyawan dan lebih dari 20.000 tenaga penjualan dan ditunjang oleh jaringan mitra perbankan dan mitra distribusi lainnya untuk melayani lebih dari 7 juta peserta di Indonesia. PT Asuransi Allianz Life Indonesia telah terdaftar pada dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan, dan tenaga penjualnya telah memegang lisensi dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia dan Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia.

Seperti kita tahu Allianz memiliki produk Allisya atau Allianz Syariah. Allianz ini sudah memiliki fatwa halal dari MUI. Produk terbarunya adalah Asuransi Wakaf. Salah satu keunggulan Fitur Wakaf Allisya Protection Plus adalah Berkah, Ringan, Amanah, dan Sumbangsih. Wakaf juga merupakan salah satu amalan dalam Islam melalui penyaluran harta benda untuk kepentingan masyarakat serta mendapatkan keberkahan pahala yang tidak terputus sampai akhirat kelak.


Karakteristik wakaf adalah sebagai berikut :

  1. Bernilai guna saat orang yang mewakafkan (wakif) meninggal dunia.
  2. Bermanfaat untuk jangka panjang.
  3. Bersifat sukarela dan produktif untuk kepentingan masyarakat.
  4. Nilai ekonomi yang tidak berkurang dan dikembangkan secara prinsip syariah.



Terima kasih




Portal berita, informasi dan kabar seputar kota Tasikmalaya dan sekitarnya yang diulas secara tajam dan dapat dipercaya.

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon