Senin, 13 Agustus 2018

Menjadi Orang Tua yang Cerdas dalam Penyelenggaraan Pendidikan di Keluarga




Sahabat Keluarga,

Pernahkah sahabat melihat fenomena gadget di tempat umum? Menunggu bus jemputan, orang-orang sambil update status. Duduk-duduk santai di taman, kadang sambil main game. Scrolling instagram supaya tetap up to date berita kekinian. Fenomena seperti itu sangat lumrah di Indonesia. 

Tidak heran Indonesia menjadi pengguna internet nomor 1 di dunia (Sumber : KataData 2017). Internet bermanfaat untuk kehidupan manusia bagi mereka yang bijak dan cerdas menggunakannya. Sayangnya penyalahgunaan internet masih saja terjadi di msayarakat kita. Sehingga berdampak pada beberapa aspek kehidupan, termasuk pendidikan bangsa.

OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi memiliki program yang bernama PISA atau Program for International Student Assessment. PISA ini merupakan program penilaian tiga tahunan dengan indeks literasi membaca dan indeks sains matematika sebagai tolak ukurnya. Pada tahun 2013, Indonesia menduduki peringkat 71 dari 72 negara sedangkan pada tahun 2015 Indonesia mulai naik ke peringkat 62 dari 72 negara.

Peringkat tersebut membuktikan bahwa Indonesia memiliki budaya literasi yang rendah dibandingkan dengan negara lain. Tentu saja ini bukan hanya tugas pemerintah tetapi semua elemen masyarakat harus terlibat, termasuk keluarga. Bagaimana keluarga bisa menjadi peran sentral dalam membudayakan literasi digital.

Sebelum melangkah jauh tentang literasi digital, mari sahabat keluarga perhatikan definisi literasi digital. Deakin University melalui laman www.deakin.edu.au menyebutkan bahwa literasi digital atau digital literacy adalah meliputi pencarian, penggunaan, dan penyebaran informasi dalam dunia digital. Secara sederhananya, saya mendefinisikan literasi digital adalah kemampuan seseorang untuk membaca dan memahami suatu informasi yang berada di dunia maya dan menyebarluaskannya di berbagai media sosial.

Data Pengguna Internet 2017 (Sumber : APJII)

Sekarang itu memang zamannya digital. Saya berani menyimpulkan “Everywhere is gadget because Everything is gadget”. Mungkin sangat jarang kita temukan di tempat-tempat umum dimana masyarakatnya tanpa memegang atau melakukan aktivitas dengan gadget. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia pada tahun 2017 sekitar 143,26 juta jiwa atau lebih tinggi dibandingkan hasil tahun 2016 sebesar 132,7 juta jiwa



Perangkat yang digunakan dalam mengakses internet sebagian besar adalah gadget, jumlahnya sekitar 101 juta jiwa. Jika dibandingkan dengan tahun 2016, pengguna internet dengan menggunakan gadget sebanyak 67,2 juta jiwa.



Didukung data dari Puslitbang Aptika IKP Kominfo bahwa usia 9-19 tahun dan 20-29 tahun mendominasi sebagai pengguna internet dengan masing-masing data sebanyak 43,90% dan 60,15%. Ini membuktikan bahwa usia pelajar sangat dekat interaksinya dengan gadget. Sehingga menjadi wajib bahwa budaya literasi digital harus dikenalkan sejak dini terhadap anak-anak atau pelajar. Literasi digital ini sebagai upaya untuk mencegah dampak negatif yang dihasilkan oleh internet.

Internet sebenarnya bermanfaat untuk pendidikan masa kini. Namun jika tidak ada literasi digital maka berimbas pada tumbuh kembang karakter seorang anak. Bullying, kecanduan game, motivasi belajar menurun, emosi yang tidak terjaga, dan terjerumus pornografi adalah contoh efek negatif dari penyalahgunaan internet.

Pengalaman Seminar Parenting


Saya pernah mengikuti seminar Bunda Elly Risma (Pakar Parenting) tentang “Mendidik Anak di Era Digital”, termasuk membahas dampak negatif internet. Saya sangat beruntung diundang seminar dari pakar parentingnya langsung. Apalagi saya sedang mempersiapkan diri menjadi seorang ayah dan tentunya membutuhkan ilmu parenting. Karena saya sadar mendidik anak di era digital seperti sekarang ini tidaklah mudah.

Durasi Pengguna Internet 2017 (Sumber : APJII 2017)

Ketika berbicara tentang gadget, anak yang terlalu dini  diberikan gadget maka akan berdampak buruk pada perkembangan mentalitasnya. Jangan mengira pergaulan anak itu aman meskipun di keluarga sendiri. Orang tua harus tahu apa yang anak-anak lihat di gadgetnya karena tipikal anak itu melihat dan menirunya.

Benar saja ketika saya pulang kampung, anak-anak SD sudah jago ngerap dengan teks yang panjang dan kata-kata yang tidak sopan. Ya mereka menghapalnya. Saya sendiri kaget dan mencoba mencari tahu apa penyebabnya. Ternyata semua karena akses bebas youtube dari gadget milik orang tuanya dan sayangnya mereka membebaskan anaknya untuk melihat dan mendengarkan lagu-lagu yang tidak mendidik. Alhasil bukan sesuatu yang bermanfaat tetapi kata-kata kasar menjadi sesuatu yang lumrah bagi anak SD. Sungguh mengerikan!

Dalam ilmu parenting yang diajarkan Bunda Elly Risma, ada konsep BMM (Berpikir, Memilih, dan Mengambil Keputusan). Konsep ini lahir saat orangtua melakukan komunikasi efektif, produktif, serta menghilangkan 12 gaya komunikasi populer. 

Gaya komunikasi populer yang harus dihindari menurut Bunda Elly Risman, yaitu memerintah, menasihati, menghibur, mengancam, menyindir, mengritik, mencap, membandingkan, menyalahkan, meremehkan, menganalisa, dan membohongi. Pola komunikasi yang salah akan membuat anak memiliki konsep diri yang lemah dan tidak bisa berpikir, memilih, dan mengambil keputusan.

Saat si anak tidak memiliki konsep diri dan kurang dapat BMM maka merekalah sasaran empuk pornografi, atau disebut generasi BLAST (Boring, Lonely, Angry, Stress, and Tired). Generasi inilah yang melampiaskan emosinya dengan gadget, internet, atau games online. Konten pornografi muncul mulai dari sexchat, gambar, dan video. Semuanya akan mereka temukan dan mulai menjadi candu. Tentu ini PR besar bagi semua orangtua.

Penelitaian dr. Donald Hilton Jr. mengatakan bahwa : 

"Konten porno yang masuk akan diterima oleh otak belakang (sistem limbik responder) selanjutnya akan mengeluarkan dopamine yang akan membanjiri otak depan atau Pre Frontal Cortex sehingga lama kelamaan otak depan akan mengecil."
Otak depan ini berfungsi sebagai otak yang mengatur sifat-sifat mulia, seperti moral, tanggung jawab, perencanaan masa depan, konsekuensi, dan lain-lainnya. Coba bayangkan bagaimana jika otak depan mulai berubah menjadi kecil?



Tantangan yang lebih besar diberikan kepada pasangan muda seperti saya. Terlahir sebagai generasi milenial maka akan melahirkan anak yang disebut dengan generasi Alfa. Generasi yang akrab dengan teknologi, paling sejahtera, dan mudah beradaptasi di dunia digital. Ledakan generasi alfa pada tahun 2025 meningkatkan populasinya sebanyak 2 miliar orang. Tentunya pendidikan keluarga sangatlah penting dalam mengenalkan internet secara bijak dan cerdas kepada anak.

Menjaga Keluarga dari HOAX


Data Center for International Governance Innovation (CIGI) IPSOS 2017, seperti yang dilansir Liputan 6 (19/12/2017), Dirjen Aptika Kemkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan bahwa 65% pengguna internet di Indonesia paling mudah percaya berita bohong atau hoax. Indonesia menjadi negara yang paling percaya hoax disusul kemudian oleh Amerika Serikat 53%, Perancis sekitar 43%, dan Jepang lebih rendah hanya 32%.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto, yang dilansir Jawa Pos :

“Hoax dampaknya luar biasa menimbulkan perpecahan bahkan peperangan. Polri sudah berupaya mengantisipasi sejak 2015. Polri serius menghadapi persoalan hoax"

Foto Acara  Coffee Morning Bersama Netizen (Dok Pribadi)

Saya berkesempatan hadir dalam acara Coffee Morning Kapolda Metro Jaya Bersama Netizen pada tanggal 9 Mei 2018. Saya bersama blogger, vlogger, dan content creator lainnya mendiskusikan sekaligus mengajak untuk selalu menyebarkan berita baik demi melawan berita hoax yang bertebaran di media sosial. Acara tersebut saya rekam dalam artikel saya di blog pribadi : 


Irwasda Polda Metro Jaya Kombes Pol Kamarul Zaman  mengatakan kepada tamu undangan Coffee Morning :

“Saya mengharap netizen tidak terprovokasi dan harus memfilter setiap berita yang tidak jelas sumbernya.”

Tingginya angka kepercayaan masyarakat terhadap berita hoax memperlihatkan bahwa pemahaman literasi digital masyarakat Indonesia sangatlah kurang. Acara Coffee Morning bersama Kapolda Metro Jaya adalah Momentum Literasi Digital dalam Memberantas Hoax. Polda Metro Jaya memberikan apresiasi kepada praktisi digital yang sudah menyebarkan konten positif di media sosial (blog, instagram, facebook, twitter, dan youtube). Alhamdulillah saya turut serta dalam acara penganugerahan tersebut.


Saya bersyukur bisa diundang dalam acara tersebut mengingat hoax adalah musuh bangsa dan harus kita perangi sehingga saya harus ikut terlibat dalam menjaga NKRI dengan melawan hoax. Yang saya bisa saya lakukan adalah selalu menyebarkan berita baik

Langkah mengantisipasi berita hoax, antara lain :



Lihat judulnya. Jika bernada negatif persuasif maka hiraukan saja. Apalagi jika judulnya sudah memuat kebencian, permusuhan, dan keretakan bangsa.

Lihat tautan linknya. Biasanya link dimana sumber itu berada bermasalah alias tidak ada sumbernya. Namun terkadang sumber berita hoax itu dibuat mirip dengan nama domain berita nasional. Jadi kita harus berhati-hati terhadap berita

Hati-hati dengan berita SARA dan Politik. Pembuat hoax memanfaatkan fanatisme suku, adat, ras, agama, politik, atau komunitas untuk memecah belah kesatuan NKRI. Jangan mudah percaya dengan berita muatan SARA dan Politik. Berita yang seolah asli namun ternyata telah diputarbalikkan dari fakta.

Bijak Bermedia Sosial. Sumber utama berita hoax berasal dari blog atau website. Namun tujuan akhir mereka adalah media sosial pemilik smartphone. Mudahnya reposting atau broadcasting di media sosial membuat penyebarannya makin cepat. So, sebagai netizen yang bijak kita harus pandai memilah dan cross check mana berita yang baik dan layak untuk disebarluaskan.

Laporkan. Secerdas apapun netizen jika tidak adanya laporan atau sanksi kepada pembuat hoax maka perusak keutuhan bangsa tersebut akan tetap merajalela. Kita harus reaktif melaporkan setiap muatan berita yang tidak tahu asal usulnya atau ciri lain yang dicurigai bersifat hoax

Keterlibatan Keluarga dalam Pendidikan Anak Era Kekinian



Era kekinian identik dengan era digital. Perkembangan pengguna internet dari tahun ke tahun yang semakin tinggi mengharuskan setiap keluarga aware terhadap arus penetrasi digital ini. Keterlibatan keluarga dalam membawa dampak positif adanya internet bukan malah ikut terbawa arus internet. 

Karena keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang harus membentengi anak dari dampak negatif internet.

Keterlibatan keluarga sudah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 30 Tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Tujuannya pun jelas untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. 



Sebagaimana Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

“Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agara menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”



Secara teknis pun sudah dijelaskan dalam Pasal 7 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 30 Tahun 2017, bentuk pelibatan keluarga bisa berupa menumbuhkan nilai-nilai karakter anak di lingkungan keluarga, memotivasi semangat belajar anak, mendorong budaya literasi, dan memfasilitasi kebutuhan belajar anak.



Saya ingin coba menambahkan pola pengasuhan anak, kebetulan saya sebagai salah satu Volunteer Gerakan Ayah Mengasuh. Indonesia termasuk nomor dua sebagai fatherless country  di dunia. Ini berarti anak-anak Indonesia kehilangan sosok ayah di rumah. Kehilangan figur ayah di rumah berdampak pada psikologis anak yang berlanjut pada perkembangan mental, pertahanan diri, dan pergualan. Oleh karena itu, Pesan kunci sukses pertama dalam pendidikan anak adalah kembalikan peran ayah di rumah.

Selanjutnya pengenalan tentang literasi digital. Ini sangat penting kaitannya dengan situasi sekarang ini. Sebelum memahamkan anak tentang literasi digital maka orang tua harus faham dulu literasi digital. Sehingga budaya literasi digital ini tetap mengakar dan menjadi fondasi keluarga. Barulah setelah menjadi kebiasaan maka anak akan menerima dan mudah memahaminya.

Komunikasi efektif adalah komunikasi yang selalu dibangun dari hati ke hati antara orang tua dan anak. Era kekinian adalah suatu masa dimana  banyak sekali konten negatif bertebaran di internet. Penting sekali untuk orang tua membicarakan masalah media sosial dan memilih mana konten yang harus di follow dan unfollow. Dengan keterbukaan maka diharapkan penyelenggaraan pendidikan bisa optimal.

Jika anak mulai mengenal gadget maka langkah awalnya adalah dibuatkan aturan. Aturan ini bisa berupa kapan jam main, kapan belajar, kapan menggunakan gadget. Lalu buat sanksi jika melanggar, ini dimaksudkan mendidik anak mandiri dan tanggung jawab.

Sejatinya penyelenggaraan pendidikan dengan adanya keterlibatan keluarga tidak akan berhasil jika tidak dibarengi dengan doa. Semoga Allah selalu melindungi buah hati kita dari dampak-dampak negatif dari internet. Semoga kita sebagai orangtua menjadi pembimbing dan teman baik bagi anak-anak.

Semoga kita menjadi orang tua yang cerdas dan selalu terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan anak dalam keluarga. Semoga artikel ini bermanfaat untuk pembaca semuanya.

Salam #SahabatKeluarga



Portal berita, informasi dan kabar seputar kota Tasikmalaya dan sekitarnya yang diulas secara tajam dan dapat dipercaya.

10 komentar

Masalah anak ini memang sudah cukup lumrah. Banyak yang menganggap kata kasar, bentakan, sampai seks itu adalah hal biasa.. orangtua sebaiknya tidak terlalu otoriter menyikapi anak yang seperti itu biar gak makin bandel. Bimbing dan bimbing adalah caranya. Main halus kalau menurut saya.. ya itu berdasarkan pengamatan saya saja, melihat orang2 tua yang sukses mengasuh anaknya..


btw artikelnya mantep bang, cuma beberapa ada yang bikin fokus artikelnya pecah ke topik lain.. sisanya top abis..

Sebagai seorang ibu yang... ada kecenderungan perfeksionis... jujur aja kondisi yang enggak bersahabat seperti yang mas fer tuliskan di ataa buat anak2 bikin aku adem panas
Semoga anak2 kita semua dilindungi ya

Betul sekali mas sepakat. Kita harus menjadi orang tua yang baik bagi anak. Thanks buat sarannya. Langsung diperbaiki

Aamiin semoga kita menjadi orang tua yang cerdas dan baik untuk anak kita ya bu

Sangat bermanfaat Mas, komunikasi dan keterlibatan keluarga penting banget ternyata yah.

Bener banget mas, sebagai orang tua baru merasa penting banget peran keluarga pada anak. Gak bisa bayangin gimana perkembangan anak zaman sekarang tanpa pendampingan dari orang tuanya

Betul mbak. Orang tua harus terlibat dalam pendidikan anak

Ngeri mas kalau zaman sekarang mah. Peran orangtua harus selalu mendampingi anaknya

Yup bener banget a, orang tua lah sebagai media pendidik pertama selain sekolah

Betul, Mas Ferry. Keluarga adalah tempat dimana anak-anak mendapatkan pendidikan utamanya. Keluarga memiliki peran sentral terhadap pendidikan anak, apalagi di era digital ini.


EmoticonEmoticon