Sharing Kajian Subuh Ustadz Adi Hidayat, Lc di Masjid Al Azhar Bekasi


Alhamdulillahirabbil’alamin. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan untuk kita mencari ilmu, terkhusus ilmu agama. Semoga dengan ikhtiarnya kita mencari ilmu, semakin dimudahkan jalan kita menuju surga Allah. Karena Nabi Muhammad Shalallahu’Alaihi Wasallam, dalam riwayat Muslim, menjanjikan bahwa barang siapa yang bersungguh-sungguh mencari ilmu maka akan dimudahkan jalannya menuju surga.

Insyaallah kali ini saya akan sharing seputar kajian subuh yang diadakan di Masjid Al Azhar Jakapermai, Bekasi. Karena kebetulan Akhyar TV (Ustadz Adi Hidayat adalah Pengasuh media dakwah tersebut) maka saya akan coba berbagi dengan apa yang saya tangkap dari kajian beliau.

Saya berangkat dari daerah Jatimulya sekitar pukul 04.15 WIB menuju Masjid Al Azhar dan sampai sekitar pukul 04.35 WIB. Normalnya ditempuh dengan waktu tempuh 45 menit tapi karena takut gak kebagian sholat subuh berjama’ah jadi saya tancap gas. Alhamdulillah sampai sana sebelum kumandang adzan. Masya Allah sesampainya disana banyak sekali jama’ah yang berdatangan untuk Subuh berjama’ah mungkin juga hendak menghadiri kajian ilmu dari Ustadz Adi Hidayat.

Setelah memarkirkan motor, ternyata saya langsung bertemu dengan beliau. Beliau mencopot sandalnya, saya pun mengikutinya di belakang. Tepat di belakang saya. Hehe Asa kumaha kitu ningali ulama dipayuneun asa adem gitu lah manah teh. Maklum lah saya wong ndeso jadi liat public figure ngerasa seneng.

LANJUT KE KAJIAN..


Ustadz Adi Hidayat membuka kajiannya dengan mengulang ayat yang dibacakan imam ketika shalat subuh. Imam sholat subuh membacakan akhir dari Quran Surat Hud dan disambung dengan Quran Surat Yusuf di ayat pertama.

Ada tiga pesan yang disampaikan ketika mendalami bacaan imam tadi.
Pertama. Pesan menjaga sholat dengan benar. Karena berdasarkan ayat 114 Surat Hud dijelaskan bahwa jika sholatnya benar maka akan melahirkan kebaikan dan menghapuskan keburukan. Juga dalam QS Al Ankabut ayat 65 bahwa sholat yang benar akan menghapuskan kemunkaran.

Beliau menambahkan bahwa jika kita benar melaksanakan sholatnya. Maka dari ujung kepala sampai kaki akan respon untuk tidak melakukan kemaksiatan. Itulah efek dari benarnya sholatnya kita.
Kemudian contoh sederhana jika sholat kita sudah benar. Misalkan ketika setelah sholat subuh kemudian keluar rumah untuk olahraga pagi, melihat aurat yang tidak sengaja terlihat, maka mata kita akan refleks untuk menolaknya dan menghindarkan pandangan kita darinya.

JIKA YANG TERJADI MALAH SEBALIKNYA mungkin berkata “Ah gak apa-apa kan pandangan pertama itu kan tidak dosa.” Nah itu sepertinya ada yang harus diperbaiki dalam sholatnya. Seperti pada Surat An Nur ayat 30 sebagai seruan untuk menjaga pandangan bagi laki-laki dan ayat selanjutnya ayat 31 sebagai sruan untuk menjaga pandangan bagi wanita.

Kedua. Kalau orang sholatnya baik maka komunitasnya akan dilindungi oleh Allah. Berdasarkan Quran Surat 7 ayat 96 dikatakan bahwa orang yang menjaga keimanan dan ketakwaan maka akan diberikan keberkahan di daerah tersebut. Dibukakannya pula keberkahan dari langit dan bumi. Jadi dua poin yang harus dipegang agar hidup kita berkah adalah IMAN DAN TAQWA.

Ketiga. Jaga kebaikan, janga sampai terpecah belah. Perbedaan adalah sesuatu yang biasa terjadi di kehidupan ini. Yang dibutuhkan adalah harmonisasi karena Allah menyebutkan dalam Surat 30 ayat 19-20, kita diciptakan dari bahan yang sama sehingga tidak selayaknya kita terpecah-pecah. Allah mewanti-wanti bagi orang yang sengaja memecah belah maka disediakan neraka Jahannam untuknya.

Sekitar 30 menit Ustadz Adi Hidayat menjelaskan PROLOG dan belum sampai ke tahapan kajiannya. Tetapi baru sampai prolog pun, subhanallah luar biasa ilmu yang didapat. Pemaparan yang jelas, muhasabah diri yang kena banget, dan tamparan keras buat pribadi yang belum istiqamah belajarnya.
Kajian kali ini adalah kajian tentang KITAB AL MAJMU, ditekankan bahwa yang dijelaskan bukan kitab yang karangan Imam Nawawi. Tetapi AL MAJMU disini adalah kumpulan hadits yang dulu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengumpulkan sekitar 40 orang sahabat di rumah Arqam bin Abi Arqam.
KITAB AL MAJMU tersebut memuat lima bagian.

Bagian pertama adalah keutamaan menuntut ilmu. Berisikan tentang rumus motivasi sebelum belajar. Bahkan bagian pertama ini adalah OBAT PENANGKAL MALAS bagi para penuntut ilmu. Sehingga dianjurkan untuk membaca beberapa haditsnya sebelum memulai belajar untuk penambah semangat.

Ada yang paling “ekstrim” ketika membaca bagian haditsnya untuk mengingatkan
apakah kita sudah tergolong orang yang baik sehingga kita sudah bisa meninggalkan majelis ilmu?
Pernah juga diceritakan dalam pengalamannya ketika Ustadz Adi Hidayat mengisi kajian di Serang. Jama’ah yang datang sekitar 10.800 orang. Dan Masya Allah yang menarik perhatian beliau adalah banyak yang difabel yang mengikuti kajiannya.

Ada yang pakai kursi roda, ada yang pakai penyangga, dan banyak lagi yang “memaksakan” diri hendak menuntut ilmu. Karena mereka mempunyai ghirah yang kuat dalam menuntut ilmu. Kita yang sehat-sehat saja, diberikan fisik yang kuat untuk berjalan kaki, lalu kendaraan yang bisa dipakai kemana saja. Apakah kita tidak tergerakkan hatinya untuk lebih semangat menuntut ilmu?

Bagian kedua adalah cara menuntut ilmu. Dalam Surat Al Anfal ayat kedua, ciri orang yang beriman adalah jika dibacakana ayat-ayat Al Quran maka bergetarlah jiwanya, tanpa sengaja bisa saja mengucurkan air matanya. Apakah kita seperti itu setiap kali sholat? Minimalnya apakah hati kita terasa ada yang bergejolak mendengar kalam-kalam Allah?

Bagian ketiga adalah cara menjaga ilmu. Orang pintar itu, kata Ustadz Adi Hidayat dengan mengutip beberapa sumber, bukan orang yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan. Melainkan orang-orang pintar adalah ia yang dengan ilmunya bisa mengantarkan untuk beramal dengan baik.

Contohnya, jika kita sering membaca bahkan hafal doa masuk masjid dengan melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu. Kemudian dilanjut dengan keluar masjid sambil memijakkan kaki kiri terlebih dahulu. Jika memang dia mengetahui ilmunya (dalam hal ini doa dan adab ke masjid) maka ilmunya itu akan membimbingnya, jadi tidak ada yang dalam satu waktu masuk masjid dengan kaki kanan tapi hendak keluar dengan kaki kanan juga. Berarti ada yang salah dengan belajarnya. Perlu diperbaiki lagi karena ilmunya tidak mengantarkannya untuk beramal dengan baik.

Bagian keempat adalah Menempatkan prioritas pembelajaran dan amal.

Bagian kelima adalah aplikasi Imam Nawawi. Menurut Ustadz Adi Hidayat, aplikasi ilmu yang dilakukan oleh Imam Nawawi ini jarang ditemui sekarang-sekarang ini. Kecakapan Imam Nawawi dalam ilmunya didapat dari kebiasaan beliau belajar. Dan di Indonesia ini, menurut Ustadz Adi Hidayat, Pak Habibie ada kemiripan dalam aplikasinya. Berdasarkan biografi Habibie yang beliau baca, Pak Habibie tergolong orang yang susah untuk keluar rumah, rajin baca buku. Itu contoh kecil dari keteladanan Profesor Habibie.

Dalam kesempatan Subuh tanggal 8 Juli ini, beliau menjelaskan tentang bagian kedua dari KITAB AL MAJMU. Perlu waktu yang lama untuk mendalaminya namun beliau menjelaskan tentang bagian kedua ini berdasarkan beberapa dalilnya yaitu QS Ad Dzariyat ayat 56, QS 58:11, QS 9:122, QS 98:5, dan QS 96:1-5.

Kajian Ustadz Adi Hidayat ditutup dengan cerita inspiratif dari Umar bin Khattab.  Dan cerita ini sangat bermanfaat untuk keluarga atau bisa dikatakanlah ada ilmu parenting di dalamnya.

Umar adalah sosok yang tergolong cerdas di kalangan sahabat. Umar merupakan ayah yang visioner. Umar tidak mau kalah dengan sahabat lain yang membesarkan anaknya supaya menjadi pembesar di kalangannya, banyak ilmunya, dan bermanfaat untuk umat.

Diceritakanlah seseroang Abbas yang mempunyai anak Abdullah atau Abdullah bin Abbas atau kita mengenalnya Ibnu Abbas. Abbas ini seorang pengusaha sukses, sangat sibuk dalam berdagang, namun tidak lupa untuk membekali ilmu untuk anaknya. Jadi ketika weekend atau hari liburnya, Abbas mengantarkan anaknya ke majelis ilmu Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Abbas ini merupakan sosok penghafal Quran dan hafal sekitar 2000 hadits. Alhasil dari strateginya dengan menempatkan anaknya ke majelis rasul sedari kecil, Abdullah bin Abbas hafal sekitar 2200 hadits. Lebih banyak dari bapaknya! Subhanallah.

Tidak mau kalah, Umar bin Khattab memiliki strategi lain. Beliau membeli rumah yang berhadapan dengan Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wasallam. Jadi anaknya yang bernama Abdullah, sama dengan anaknya Abbas, jadi Abdullah bin Umar ini bisa mendapati ilmu sedari Nabi berangkat keluar rumah, cara beliau berjalan, dan aktivitas-aktivitas beliau ketika hendak menuju majelis ilmu. Seperti yang kita tahu, dari hasil “strategi” Umar ini, Abdullah bin Umar atau Ibnu Umar berhasil menghafal hadits sebanyak 2800 hadits. Masya Allah!

Diceritakan pula di kalangan sahabat itu  ada suami istri yang bernama Malik dan Malika. Kedua suami istri ini mempunyai anak yang bernama Annas. Annas bin Malik ini mempunyai “strategi” lain dalam menjemput ilmu untuk anaknya. Orangtuanya langsung memberikan ke Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan minta diangkat sebagai PELAYAN RASUL. Dengan kata lain strategi Malik ini mempunyai strategi yang lebih bagus daripada Umar dan Abbas. Akhirnya Annas bin Malik bisa lebih “mengenal” Nabi dari dekat karena tinggal satu rumahnya dan diberikan keberkahan yang banyak karena banyak membantu Nabi semasa hidupnya. Allahuakbar!

Begitulah kita harus mencontoh strategi-strategi para orangtua untuk mendapatkan ilmu. Mereka tidak hanya belajar untuk mencari ilmu tetapi juga menyiapkan generasi. So, menikahlah. Hehe
Tapi ini serius kalau kita tidak menikah bagaimana kita bisa menyiapkan generasi penerus kita? Juga apa yang kelak nanti kita banggakan sepeninggal kita? Apakah ada keturunan kita yang bermanfaat untuk umat? Atau minimalnya ada lantunan doa ampunan kepada kita di sepertiga malamnya?

Semoga kita menjadi generasi yang dibanggakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Wallahu’alam bis shawab.

***
Note : Tulisan diatas murni dari hasil catatan pribadi. Mohon maaf jika ada kesalahan. Murni dari kekeliruan dalam mendengar dan menulis isi kajiannya.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar