Rabu, 05 Juli 2017

Majengan, “Oleh-Oleh” khas Mudik ke Rumah Mertua

 


Tahun ini adalah tahun pertama aku harus berbagi lebaran. Pertama, mudik ke rumah orang tua. Kedua, mudik ke rumah mertua. Dua-duanya sangat penting dan harus aku lakukan. Tidak mungkin bagiku hanya berlebaran di kampungku saja. Apa kata mertua? Hehe

H-2 lebaran tepatnya hari jumat aku mengawali mudik bersama istri menuju kampung halaman di Tasikmalaya. Karena adikku akan menikah pada tanggal 5 Syawal jadinya kami mudik pertama ke Tasik. Sejujurnya aku masih khawatir dengan mudik membawa istri yang sedang hamil muda. Takut terjebak macet, kepanasan berjam-jam di bus, atau bisa jadi maboknya kambuh.

Alhamdulillah, ternyata perjalanan menuju kota Tasikmalaya sangat lancar. Supir busnya memang handal membawa penumpang dengan mengambil jalan alternatif alias tidak melewati tol. Sekitar 8 jam perjalanan kami lewati dan akhirnya kami pun tiba dengan selamat.

Aku pun berlebaran dengan khidmat bersama keluarga. Ini pun menjadi pengalaman pertama istriku lebaran di kampung orang. Hehe Selang lima hari kemudian adikku melaksanakan janji suci untuk mengemban amanah sebagai seorang suami. Barakallah!

Sekarang aku akan mencoba sharing pengalaman ketika mudik ke Rumah Mertua. Kalau diceritakan juga kisah mudik di Tasik mungkin bakal ngalor ngidul dan teman-teman pembaca tidak mendapat manfaat dari tulisanku ini. Hehe

Pengalaman mudik ke rumah mertua pun segera dimulai. Estimasi waktu dari Tasikmalaya sekitar empat jam. Itu pun kalau tidak macet. Sekali lagi, tidak macet. Hehe Maklum lah musim mudik. Kayaknya mustahil kalau gak macet.

Ternyata eh ternyata, rute Tasikmalaya menuju Indramayu sangat luaancaarr. Entah itu tidak ada yang ambil rute ini atau memang belum terjamah para pemudik. Menurutku kemungkinan besar jalur yang kita lewati jarang diketahui pemudik. Rata-rata orang mengambil arah Garut tetapi kami mengambil jalur Ciamis dan Majalengka.

Jalanan yang berkelok-kelok mewarnai pemandangan di jendela kaca mobil. Sudah terhitung tiga kali istriku muntah. Tetapi yang aku heran adalah maboknya itu ketika jalanan lurus dan justru di jalanan yang banyak tikungannya malah aman-aman saja. Sungguh misteri yang belum bisa dipecahkan. Hehe

Alhamdulillah kami pun sampai dengan selamat. Kumandang adzan seolah menyambut kedatangan kami seraya mengingatkan kami untuk segera melaksanakan perintah shalat. Tidak lama kemudian setelah menunaikan shalat Maghrib, ternyata orang-orang langsung ramai-ramai berada di luar rumah mertuaku. Aku kira demo pemuda atau konvoi para rider yang mencari angin malam atau mungkin menyambut kedatanganku. Hehe tidak mungkin

Rupanya pemuda berkumpul di depan rumah itu rangkaian agenda hajatan pernikahan di Indramayu. Desa Babadan tepatnya di Kecamatan Sindang akan diadakan pernikahan. Tradisi ini selalu dilakukan turun temurun ketika ada tetangga akan melakukan pernikahan.

Rentetan acara dimulai penyambutan calon mempelai wanita pada malam harinya. Pemuda bersiap di jalan dengan membawa motor masing-masing. Semuanya kompak berboncengan dengan temannya. Semuanya tidak mau ketinggalan dan mungkin hampir semua pemuda menikmati sebagai pengiring dengan berbondong-bondong menuju rumah mempelai wanita.

Warga sekitar pun sudah tidak heran melihat pemandangan motor-motor berjejer di jalan hendak menuju desa sebelah. Itu berarti tanda akan diadakan pesta pernikahan warga setempat.

Akad nikah dilaksanakan pada malam hari. Semuanya berlangsung dengan khidmat. Sang pengantin pun menjalaninya penuh dengan kekhusyukan berbalut kehalalan yang sudah Allah berikan. Keesokan harinya mereka harus bersiap untuk resepsi.

“Ibu mau majengan dulu.” Ucap ibu mertuaku sembari keluar dari rumah.

Aku pun belum faham apa itu “Majengan”. Berbentuk barang kah? Karung? Atau apa?

Ibu mertua hendak pergi majengan dengan tangan kosong. Keahliannya memasak menjadi senjata utamanya untuk membantu tuan rumah yang punya hajatan. Dari sanalah aku berkesimpulan majengan adalah membantu memasak. Dimulai dari mencuci beras, memotong sayuran, menumbuk bumbu, sampai dengan mengolah pasakan khas Indramayu.

Ternyata asumsiku terbantahkan ketika bapak mertuaku pun siang harinya pergi untuk majengan. Dari sini aku mulai bingung. Memangnya bapak mau cuci beras juga? Potong sayuran? Hehe rasanya tidak mungkin.

Sampai pada akhirnya aku berhenti untuk berasumsi dan langsung bertanya kepada istriku.
Dari penjelasannya yang lumayan panjang, aku pun mulai mengerti apa itu Majengan.

Majengan merupakan tradisi masyarakat Indramayu untuk saling bantu ketika ada hajatan seperti pernikahan, khitanan, dan lain-lain. Majengan ini dihadiri oleh tetangga dekat, tetangga jauh, dan saudara dari keluarga tuan rumah. Jadi, tuan rumah yang punya hajatan ibarat seorang raja yang tidak boleh repot mengurus hajatan.


Beberapa hari sebelum hajatan biasanya tetangga mengirimkan sembako berupa beras, telur, sayuran, dan sembako lainnya kepada tuan rumah. Ini sudah menjadi kebiasaan warga untuk mengawali majengan. Pemberian dari tetangga ini sangat membantu untuk pasokan kebutuhan hajatan yang akan dimasak besok.

Kemudian yang selanjutnya adalah penyambutan calon pengantin. Seperti yang sudah aku sebutkan tadi bahwa para pemuda setempat menyambut calon pengantin dengan arak-arakan sepeda motor.

Keesokan harinya dimulailah tradisi majengan. Mungkin jika ada warga sekitar atau tetangga bahkan saudara tidak melakukan majengan, akan merasa malu sendiri karena ini sudah menjadi ciri kebermasyarakatan warga.


Dalam acara majengan terdapat beberapa peran penting yang dilakoni.


Pertama, orang yang menyambut kedatangan para tamu undangan.
Ketika ada tamu maka bersiap dengan senyuman ramah sembari menyodorkan pulpen untuk mengisi daftar hadir. Biasanya peran ini dilakukan oleh saudara dari tuan rumah.

Kedua, barisan ibu-ibu di dapur umum.
Dapur ini dibuat senyaman mungkin dan bisa menampung banyak orang supaya banyak yang membantu ketersediaan makanan untuk para tamu hajatan. Tangan yang terampil menjadi ciri khas ibu-ibu “belakang layar”. Sudah terlatih puluhan tahun membuat bumbu dan masakan khas Indramayu.

Ketiga, helper.
Nah, peran ini sangat unik. Ada sekitar dua atau tiga orang yang menjalani peran ini. Jujur, aku merasa kagum dengan kesigapan mereka. Ketika tamu berdatangan, mereka memastikan kursi yang dipasang sudah tertata rapi. Jika ada kursi yang berantakan segera diluruskan kembali barisannya.

helper (sebutanku) sedang membereskan piring bekas

Bahkan ketika tamu undangan sudah mau pergi kemudian meletakkan piring kotornya, mereka dengan cepat mengambil piring-piring tersebut. Mereka harus memastikan tidak ada piring bekas yang tergeletak lama-lama dibawah kursi tamu. Mereka pun segera memberikan kepada tukang cuci piring.

Keempat, Pramusaji atau penunggu hidangan makanan.
Simpel saja mereka membantu tamu undangan mengambilkan makanan atau memberikan ketersediaan makanan yang hampir habis untuk segera ditambah.

Yu Atin lagi action :D

Keempat peran itu aku sebutkan karena menurutku sangat penting. Meskipun ada peran lain yang tidak kalah penting seperti sesepuh yang menjadi “benteng terakhir” ketika tamu undangan akan pulang. Ucapan terima kasih selalu terucapkan kepada tamu yang sudah bersedia hadir di hajatan.

Yang aku salut dari tradisi majengan itu adalah semuanya bersifat SUKARELA alias TIDAK DIBAYAR!

Rasa memiliki dan keinginan untuk membantu sesama menjadi pegangan utama dalam tradisi majengan ini. Kata istriku yang dibayar hanya tukang cuci piring karena pekerjaan ini dinilai lebih berat dan sangat menguras tenaga. Meskipun pada dasarnya dibayarnya tidak ada tawar-menawar harga. hehe Karena semuanya didasari rasa ikhlas dan empati kepada warga yang punya hajatan.


Itulah “oleh-olehku” ketika mudik ke rumah mertua. Oleh-olehku kali ini sangat beda karena bukan berbentuk barang. Lebih dari itu, oleh-oleh ini berupa pelajaran yang sangat berharga bahwa kebersamaan harus terus dijunjung tinggi dan tradisi Majengan harus terus dipupuk bahkan dicontoh oleh beberapa daerah di Indonesia.

Semoga bermanfaat. Itulah oleh-olehku, mana oleh-olehmu?
Menikmati Pantai Karang Song di Indramayu bersama istri tercinta :D

***
Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway 1 Tahun Dunia Gairah
http://www.pritahw.com/2017/06/giveaway-lebaran-berhadiah-sejuta.html

5 komentar:

  1. Cuman tau pekerjaannya ternyata ada istilahnya toh mas. Haha thanks for sharing, well done!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas disini mah gitu ada istilahnya hehe btw thanks for bw and comment. :D

      Hapus
  2. uhui, lebaran pertama di rumah mertua. Selamat ya Ferry atas kehamilan istri, smg lancar. Btw makasih jg udah ikutan GA blog ku ya, gudlak^^

    BalasHapus