Kemahnya Bidadari Surga



Tidak ada impian terindah seorang wanita di dunia selain menjadi bidadari surga. Ia akan kekal menjadi pendamping bidadara. Hiasan keshalihan mewarnai hari-hari abadi di akhirat kelak dengan pasangan abadinya.

Tidak mudah menjadi perempuan. Dari kecil harus patuh kepada orang tua, ketika dewasa berpindah ketaatannya kepada suami, dan sampai menjadi ibu ia harus rela berkorban demi anak-anaknya.

Menjadi perhiasan dunia adalah impian terdekat seorang wanita "hijrah". Karena ia sadar dunia ini terlalu hina dibandingkan surga dari taatnya kepada suami. Karena perhiasan dunia sejatinya jika ia bisa jadi wanita shalihah.

Karena ia juga sadar bahwa sejarah telah membuktikan orang besar lahir dari unsur-unsur kebesaran seorang ibu. Wanita yang visioner selalu mementingkan kepentingan buah hatinya dibandingkan dirinya sendiri.

Imam Mekkah As Sudais pun sejak kecil terkenal dengan kenakalannya. Cerita penaburan pasir pun menjadi sejarah awal mula do'a yang terkabul dari kelembutan seorang ibu. Tentunya dengan kesabaran, kerelaan berkorban, dan juga cinta mendidik . Sehingga jadilah Imam Besar hasil dari cinta ibunya.

Pun juga ketika bayi Musa dititipkan kepada Raja Firaun yang terkenal kasar dan sombong. Bayi Musa tetap tumbuh dan belajar dari rangkulan kasih sayang seorang "ibu". Jika istri Fira'un berwatak sama dengan suaminya, bisakah terlahir orang besar seperti Nabi Musa 'Alaihi Salam? Wallahu'alam

"Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)" Al Isra : 53


Lisan ibarat benteng pertahanan seorang wanita. Jika tidak dijaga, kemungkinan mudah untuk dirusak. Jika terjaga dengan baik, musuh pun segan untuk menembusnya.

Karena sungguh perkataan lembut, mesra, dan lirih suara yang halus hanya boleh ditampakkan kepada suaminya. Karena ia sadar lisan yang manja (aurat) hanya untuk pasangan halalnya.

Rasa malu yang tinggi adalah harta simpanan awal seorang wanita. Ia akan dipandang terhormat jika rasa malu sudah tertanam dalam hati dan jiwanya.


Muttafaq'alaih meriwayatkan bahwa Rasulullah lebih pemalu daripada seorang gadis perawan di rumahnya.


Al Quran melarang seorang wanita berbicara lembut dengan lelaki yang bukan muhrim, karena kelembutan dan keluguannya menggoda kelelakiannya. Meskipun mereka tidak bermaksud salah, lelaki mana yang tidak tergoda syahwatnya? 

Bidadari surga selalu berada dalam kemahnya. Ia terjaga pandangannya, tertutup keindahannya, dan tertuju untuk bidadara surga.

Wanita belajar dari rumah dunia menuju kemahnya di surga untuk bergabung bersama bidadari surga lainnya. Kemudian mendampingi hari-hari manisnya bersama bidadara.

Mendapatkan kemah di surga adalah puncak kebahagiaan abadi. Namun ia akan terwujud jika dibingkai dalam keshalihan dan ketakutan kepada Allah. Dan sesungguhnya hidup ini hanya ujian dan bersama ketaatan-lah jembatan kita menuju kemah di surga.

Bukankah manusia belum dikatakan beriman jika belum mendapatkan ujian dariNya?


Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar