Daulah Andalusia, Daulah Peradaban Pengetahuan (Blog Review)



Blog Review Jelajah Tiga Daulah : Journey to Andalusia
Ada dua hal yang akan dirasakan ketika menamatkan buku Jelajah Tiga Daulah : Journey to Andalusia. Buku karya Mbak Marfuah Panji Astuti tersebut membuat saya merasa bangga sekaligus haru. Ini tentang traveling yang sarat akan nilai sejarah islam.

Sejarah paripurna Andalusia memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap dunia ilmu pengetahuan. Berawal dari  Musa bin Nushair yang mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Tharif bin Malik, dan penerusnya Thariq bin Ziyad, ke Semenanjung Iberia. Dari sanalah mulai terbuka pintu cahaya ilmu, sejarah, dan kemanusiaan.

Perjuangan yang dipimpin Panglima Thariq bin Ziyad sungguh totalitas dalam menegakkan kalimat Allah. Bahkan sejarah mencatat tentang dibakarnya kapal-kapal mereka setibanya di daerah musuh. Jumlah mereka yang hanya sekitar 12.000, dengan beraninya ingin mengalahkan pasukan musuh yang berjumlah 100.000. Apa yang menggerakan gelora jihad seperti itu tidak lain, kecuali hanya mengharap hidup mulia atau mati syahid.

Tidak ada yang lebih tepat dari menghembuskan “dongeng” pembakaran kapal itu, sehingga terasa alamiah kalau pasukan Thariq bin Ziyad akhirnya menang ; karena memang tidak memiliki pilihan lain! (Journey to Andalusia, hal 65)

Rock of Gibraltar
Pembebasan Andalusia seperti telah membuka “surga” kepada rakyatnya. Mulailah banyak dihasilkan “keajaiban” yang indah di negeri yang semula asing dan tidak terkenal itu.


Mutiara di Afrika


Sebagai Gubernur Afrika, Musa bin Nushair, mencoba memurnikan akidah dan keimanan rakyatnya. Fondasi islam dikuatkan terlebih dahulu sebelum melakukan pembaharuan. Sehingga, bukan hanya dunia semata tetapi juga fokus mengejar akhirat. Dan itulah mengapa kekuasaan islam itu kokoh zaman Andalusia karena selalu mengharapkan pertolongan Allah.

Banyak sekali jejak-jejak sejarah islam di benua Afrika. Terlihat dari bangunan-bangunan yang luar biasa.

Seperti halnya ketika Mbak Marfuah tiba di Maroko, Afrika. Place Muhammed V dan Masjid Hasan II yang merupakan masjid terbesar kedua di dunia, setelah Masjidil Haram di Mekah. Subhanallah. Ditambah udara pantai yang segar di depan masjid membuat keindahan alam Afrika lebih mantap.

Yang menjadi khas untuk wisatawan Indonesia ketika menginjakkan kaki di Afrika, adalah nama jalan yang diambil dari Presiden Soekarno. “Rue Soekarno” terdapat di kota Rabat. Selain itu juga konon ada Rue Indoensia dan Rue Bandung. (Rue menurut bahasa Prancis berarti jalan)

Tahukah kamu universitas tertua di dunia? Ya itu berasal dari Andalusia. Universitas Al Qarawiyyin tercatat dalam Guinness Book of World Record sebagai kampus tertua di dunia. Darisanalah ilmuwan-ilmuwan muslim bermunculan, seperti Al Idrisi (kartografer, pembuat peta), Ibn Khaldun, dan bahkan ada non muslim yang belajar di kampus tersebut, seperti Paus Sylvester II sampai filsuf Yahudi Maimonides.

Universitas Al Qarawiyyin sebagai universitas tertua di dunia
Kemudian yang menarik perhatian saya pribadi adalah ketika penulis menyambangi kota Tanger. Letaknya di tepi Laut Mediterania. Kenapa menarik? Karena kekuasaan Allah di Surat Ar-Rahman sangat nyata. Dua aliran bertemu di batas antara Laut Mediterania dan Samudra Atlantik.


"Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu." (QS Ar Rahman : 19)


Kesedihan di Istana Agung


Namanya Istana Al Hambra. Diceritakan ada tiga bangunan utama, yaitu The Nasrid Palace, Benteng Alcazaba, dan Taman Jannah Al Arif atau Generalife. (halaman  86)

The Nasrid Palace, bangunan utama yang dindingnya berhias kaligrafi ayat-ayat Allah yang sangat rumit dan dikerjakan secara MANUAL. Benteng Alcazaba yang kokoh dan Jannah Al Arif yang  disebut refleksi taman surga karena keindahannya. Dulunya berupa taman sayur dan ada jalan pintas yang menghubungkan istana dengan taman ini.

Kemegahan Istana Al Hambra menyimpan sejarah pahit di mata umat islam. Sultan Boabdil, sultan terakhir dari kerajaan Granada, menyerahkan kekuasaan kepada pihak musuh (Pasukan Isabella dan Ferdinand). Sultan tidak mau menjadikan rakyatnya sebagai korban dari kekejaman. Sehingga dengan janji jaminan keselamatan maka rakyatnya akan aman dan bisa mempertahankan keimanannya.

Ternyata kejadian mengerikan pun berlanjut. Janji pasukan Isabella dan Ferdinand diingkarinya. Rakyat dipaksa murtad atau mengungsi ke Afrika bagian utara. Sayangnya, pengungsi pun dibunuh seperti layaknya rakyat yang berjuang mempertahankan keimanannya di Al Hambra. Sungguh keji.

Yang membuat saya pribadi semakin sedih ketika penulis menjelaskan bahwa peristiwa tersebut malah diperingati setiap tahun. Meskipun kalangan ulama melakukan protes untuk diberhentikannya hari genosida tersebut, tetapi pihak pemerintah tidak menggubrisnya. Bahkan sampai sekarang pun tradisi tersebut masih dilakukan.

Penulis pun ketika bersama guide lokal pun merasa kecewa karena banyak sejarah islam yang dibelokkan. Fitnah terhadap umat islam semasa di Andalusia seakan menutup cahaya yang menerangi kota asing yang penuh dengan kegelapan ilmu tanpa kontribusi umat islam. Air susu benar-benar dibalas dengan air tuba.

Alhamdulillah bukti-bukti sejarah islam di Andalusia yang masih ada, tidak bisa membuat kebohongan sejarah lagi. Inilah bukti cahaya islam tidak akan redup, karena Allah yang menjaganya.

Di buku Journey to Andalusia lebih banyak cendikiawan muslim yang diceritakan

Wisata Kuliner Ala Andalusia


Yang tidak mungkin terlewatkan adalah kuliner khas Andalusia. Warisan turun temurun seperti roti khubs yang masih menggunakan tungku tradisional. Mungkin itu cara agar menjaga kekhasan leluhurnya dalam membuat makanan pokok orang Maroko tersebut.

Ada pula kuliner khas Chicken Tajine yang disajikan di Tajine, tembikar khas Maroko yang digunakan untuk mengolah aneka bahan makanan, seperti daging kambing, sapi, ayam, dan lain-lain. Menurut penulis, rasanya sungguh manis ditambah daging ayamnya yang empuk dan bumbunya kaya akan rempah-rempah.

Dan masih banyak lagi kuliner menarik di Andalusia yang ditulis di buku Journey to Andalusia terbitan BIP Gramedia tersebut.

Kejadian-kejadian unik pun diceritakan. Mulai dari menyeret koper untuk menghindari parade sampai momen ketika di depan Mihrab yang terletak di balik teralis besi Masjid Cordoba. Sebegitu protektifnya petugas keamanan ketika melihat orang yang hendak sujud syukur (di buku 99 Cahaya di Langit Eropa) disangka membuat onar. Proteksi yang salah kaprah. Miris.


Penutup

Iqra, bacalah.. Surat cinta  pertama dari Sang Khaliq  yang turun ke muka bumi mengisyaratkan kepada kita untuk membaca. Buku Daulah Andalusia menjadi salah satu rujukan baru untuk membuka gerbang ilmu tentang sejarah keagungan islam yang sebenarnya.  Jangan sampai kita membaca sejarah islam bersumber dari Barat, penyelewengan sejarah islam oleh Bangsa Barat menutupi mindset umat muslim untuk menutup mata terhadap sejarah islam sebenarnya.

Disanalah peran kita sebagai muslim untuk mengetahui dan menyebarkan pengetahuan tersebut. Sehingga, dunia harus tahu sejarah islam sebenarnya. Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin adalah pengejawantahan dalam setiap aspek kehidup, seperti ilmu pengetahuan, sejarah, kemanusiaan, dan lain sebagainya.

Saya pun menyarankan kepada teman-teman yang belum membaca buku tersebut untuk segera mulai membeli dan menghayati tiap sejarah di daulah Andalusia. Sehingga informasi yang didapat lebih lengkap daripada blog review ini.

Selamat Membaca!

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar