Selasa, 17 Januari 2017

Mencintai Tanpa Tapi

Pada awalnya aku menyadari bahwa cinta adalah tahta tertinggi dalam sebuah rasa. Ternyata tidak! Cinta akan terkalahkan oleh rasa kasih sayang. Kasih sayang akan menjelma kedalam suatu sikap yang bernama totalitas.

Totalitas bekerja untuk menyayangi orang yang dicintai adalah makna terdalam sebuah kata cinta. Sehingga dalam semua cerita cinta, jika hanya seseorang ingin dicintai maka belajarlah untuk menyayangi. Ketika rasa kasih sayang bisa terpelajari, cinta pun akan terkuasai dengan sendirinya.

Pernikahan adalah sebuah totalitas mencintai. Ya, baru tahap mencintai dan belum sampai ke tahap menyayangi. Yang kemudian ia akan menyadari bahwa setelah pernikahan bahwa dasar apa yang akan kita gunakan untuk menyayangi pasangan kita.

Tidak heran jika seseorang merasa kaget dengan sikap pasangannya setelah menikah. Ada juga yang nerimo dengan tingkah laku pasangannya. Yang membedakan keduanya adalah atas dasar apa mereka mencintai.

Menikah untuk ibadah. Bentuk penghambaan kita sebagai makhluk adalah selalu menjalani segala kewajiban hamba-Nya untuk mengharapkan dari Sang Pemberi Balasan Terbaik. Sehingga dalam praktiknya, mengharapkan kepada makhluk hanyalah bentuk penyiksaan diri seburuk-buruknya.

Menikah itu surga. Ada didalamnya ketaatan juga kepatuhan. Mendapatkan surga tidak semudah "memasukkan" diri ke jurang neraka. Susah, berliku, penuh godaan, dan banyak rintangan adalah sunnatullah menuju surga-Nya.

Dan terkhusus untuk pada perempuan, ada reward khusus. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda :

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.” (HR. Ahmad; shahih)


Subhanallah itulah keistimewaan pada setiap wanita yang sudah menikah. Ternyata, dengan taat kepada suami, Nabi pun menjanjikan surga dan istimewanya lagi melalui pintu manapun.

Namun bukan istri saja yang mengharapkan surga. Tentunya sang suami pun menginginkan berbarengan hidupnya di surga kelak. Karena salah satu golongan yang dinaungi oleh Allah di akhirat kelak adalah pemimpin yang baik dan juga adil. Bukankah suami juga termasuk pemimpin dalam keluarganya?

Dan kesimpulannya, menuju surga harus dengan team work. Ia akan berhasil jika didalamnya terdapat komunikasi yang baik, arah tujuan yang jelas, penghambaan yang taat, dan hati yang tulus untuk beribadah.

Wallahu'alam bis shawab

0 komentar

Posting Komentar