Buku-ku, Maharku Untukmu



Buku Untukmu (dok.ferial)

Andai pencarian cinta suci dianalogikan dengan berbagai perbandingan. Maka ia akan ditemukan dalam perbandingan yang beraneka ragam. Karena pada dasarnya pencarian cinta itu bermacam definisi. Ia muncul untuk diartikan dalam berjuta bahasa manusia.

Fitrah penciptaan sayap itu memang tidak sebelah. Diciptakannya dua sayap untuk mengarungi atmosfer keindahan di dunia ini. Namun pertanyaan yang selalu meresahkan adalah dimanakah keberadaan sayap yang satunya?

Dinamika cinta akan terus bergulir seiring dengan dinamika waktu. Menemukan cinta adalah menemukan kepingan waktu yang seolah berhubungan. Kita hanya butuh kesabaran untuk mengutuhkan puzzle-puzzle cinta dalam arus waktu ini. Tidak bersabar dalam menyusunnya hanya akan merusak fondasi yang telah dibangun.

Pertanyaan yang kemudian selalu dilontarkan sang pencari cinta adalah Siapakah Jodohku?

Wajar sekali jika pertanyaan itu selalu muncul dan akan selalu ada sampai cintanya dipertemukan dalam sebuah ikatan janji suci. Karena pada hakikatnya jodoh adalah sebuah misteri. Memecahkannya adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai dengan apapun

Perjalanan Cinta-ku

Foto Pasca Wedding (dok. Posko Studio)

Segala sesuatu pasti sesuai dengan kehendak-Nya, termasuk jodoh didalamnya. Berusaha tanpa berharap kepada Yang Maha Pemberi Rezeki adalah suatu kesia-siaan. Begitulah keharusan suatu sistem penghambaan.

Semoga kita dijauhkan dari sifat sombong, yang hanya mengandalkan keegoisan diri.

Fitrah pemuda yang belum menikah, kesendirian adalah ibarat berdiri di tepi jurang. Jika terus "menggalau" di tepi jurang niscaya akan terjerumus ke dalamnya. Sehingga, obat yang paling ampuh adalah harus mencari seseorang untuk menarik diri kita dari tepi jurang tersebut.

Semoga tulisan ini dijauhkan dari sifat ria, hanya coba mengamalkan hadits dan semoga bisa diamalkan oleh teman-teman pembaca.

"Siapa yang senantiasa beristighfar maka Allah jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitannya, kesudahan dari setiap kesedihannya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Bukankah jodoh adalah salah satu rezeki terbesar? Sehingga dengan mengharapkannya harus penuh kesungguhan diri dan perbanyak ampun.

Adapun pengamalan istigfhar adalah langkah awal kita untuk selalu bertobat kepada Allah.

Bisa jadi segala do'a (termasuk jodoh didalamnya) belum terkabul dikarenakan kemaksiatan dalam diri.

Bukankah dengan perbanyak ampunan dan kemudian Allah mengampuni segala dosa-dosa kita, Allah akan permudah do'a kita?

Jika Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam beristigfhar dalam sehari 100 kali maka kita pun sebenarnya bisa lebih dari 100. Jika tiap shalat kita tambah dzikir istigfhar sebanyak 33 kali, kemudian jika dikalikan 5 maka istigfhar kita bisa 165 kali (lebih dari 100 kali) dalam satu hari.

Sebenarnya bukan dilihat dari kuantitas dzikir kita tetapi kualitas dzikir kita yang harus ditingkatkan.

Saya hanya melakukan apa yang sudah dilakukan semoga dengan kuantitas istigfhar ditingkatkan, maka kualitas pun meningkat. Sehingga diri ini bisa dipermudah dalam berdo'a, termasuk diberikan jodoh yang baik untuk dunia akhirat.

Perihal buku sebagai mahar untuk istri, itu adalah buah eksplorasi yang ditumpahkan kedalam pena sehingga terbentuklah buku.

Pada awalnya memang diniatkan sebagai salah satu mahar pernikahan saya. Dan tidak ada maksud lain. Bisa dibilang buku adalah teman pendamping saya ketika masih sendiri.

Waktu itu pengerjaan sekitar bulan Ramadhan dan Syawal. Sehingga bukunya tipis namun bagi saya syarat akan makna. Buah perjuangan dari peperangan hati. Hehe

Alhamdulillah beberapa bulan berselang, tepatnya tanggal 25 Rabi'ul Awal saya menikahi seseorang gadis yang sebelumnya saya tidak mengenalnya. Begitu pun dia, tidak mengenalnya saya sebelumnya.

Akhirnya pun buku tersebut sudah berpindah tangan kepada seseorang yang dihadiahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada saya. Untuk kemudian diapakan buku tersebut, tergantung istri saya.

Dari suamimu untuk istriku, Aku Mencintaimu Karena Allah.




Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar